Sabtu, 15 Oktober 2016

SISTEM CERDAS


A.  Definisi Sistem Cerdas
Sistem cerdas atau yang dapat dikenal dengan kecerdasan bauatan (artificial intelligence) adalah sistem yang dapat mengadopsi sebagaian kecil dari tingkat kecerdasan manusia untuk berinteraksi dengan keadaan eksternal suatu sistem. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menyebabkan lahirnya berbagai teknologi yang  dapat  dikatakan  bersifat  cerdas,  misalnya  permainan  (game),  sistem  pakar (expert system), jaringan saraf tiruan (artificial neural network) dan robotika.
B.     Ciri-ciri dari sistem cerdas yaitu seperti berikut :
1.      Peduli
Sebuah Mesin dapat memiliki logika yang mempunyai perasaan dan toleransi seperti manusia. Logika yang mempunyai persamaan ini dimaksudkan bahwa logika yang bernilai samar yang benar terlihat tidak benar dan salah bernilai tidak salah. Sehingga dalam kerjanya, logika tersebut menggunakan perasaan. Logika Samar merupakan perasaan yang ditanamkan pada komputer, logika samar tersebut disebut dengan Fuzzy Logic.
2.      Wawasan
Sistem cerdas dibuat berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh mausia yang kemudian pengetahuan tersebut diaplikasikan ke dalam komputer sehingga diperolehlah sistem cerdas atau kecerdasan bauatan.
3.       Solusi
Tujuan dari pembuatan sistem cerdas dimaksudkan untuk memberikan solusi atau penyelesaian masalah yang dihadapi oleh manusia. Sebagai contoh pembuatan sistem cerdas ATM, dengan adanya ATM dapat memberikan solusi yang dihadapi oleh manusia seperti kemudahan dalam penarikan uang tunai sehingga  manusia tidak perlu bersusah payah pergi ke bank untuk menarik uang tunai.
4.      Optimis
Keberhasilan dalam pembuatan sistem cerdas ini didasarkan pada sikap optimis. Kegagalan yang dihadapi dalam pembuatan sistem cerdas tidak membuat putus asa. Kegagalan tersebut menjadi pelajaran yang dapat diambil sehingga diperoleh sistem cerdas yang baik, serta menjadi tolak ukur keberhasilan siste cerdas tersebut.
Referensi :


Senin, 20 Juni 2016

Jurnal ITIL (Information Technology Infrastructure Library)


1.      Latar Belakang ITIL
Definisi ITIL adalah sebagai sekumpulan struktur yang berguna sebagai proses komunikasi multifungsi satu dengan yang lain. Masing-masing proses memenuhi kewajibannya untuk meenuhi kriterian perbaikan yang berkelanjtana dan kepuasan pelanggan.
Organisasi best practice meyediakan struktur yang diakui bertahun-tahun dengan pengalaman di berbagai perusahaan besar, profesionalisme yang dikenal secara mendunia untuk membentuk proses optimasi layanan manajemen IT.
2.      Komponen Dasar ITIL
Pada dasarnya ITIL memiliki 5 pilar “
·         Layanan Pelanggan
·         Siklus Layanan
·         Konsep Proses
·         Kualitas Pelayanan
·         Komunikasi

3.      Morfologi ITIL V3
ITIL V3 mengandung 5 prinsip utama:
·         Strategi Layanan
·         Desain Layanan
·         Peralihan Layanan
·         Operasionala Layanan
·         Perkembangan Layanan yang Berkelanjutan

4.      Implementasi ITIL
Perancangan configuration management database tujuannya adalah agar tercipta tata kelola layanan teknologi informasi yang baik khususnya pada Configuration Management Database sebagai repository yang mencatat segala hal dari organisasi yang berhubungan dengan TI  agar dapat memberikan layanan optimal bagi para pengguna.

Framework best practice dalam dunia ICT. Dari berbagai framework untuk tata kelola teknologi informasi yang terbanyak digunakan saat ini adalah ISO 27000, ITIL dan COBIT .Pemilihan framework yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang ditemui juga merupakan kunci sukses untuk meningkatkan kinerja layanan teknologi informasi.
Configuration Management Database (CMDB) merupakan suatu penerapan database yang berisi data-data yang relevan dan detail-detail dari element-element dalam suatu perusahaan yang digunakan dalam mengatur IT service. CMDB ini lebih dari sekedar pendataan asset, karena berisi informasi yang terkait dengan perawatan, perpindahan, dan masalah yang terjadi dengan item-item yang ada dalamnya. Selain itu CMDB berisi informasi yang lebih luas tentang item-item yang sangat dibutuhkan oleh organisasi pelayanan IT, seperti hardware, software, dokumentasi, dan personal.
Hasil penelitian untuk perancangan menggunakan metode survei dengan cara menyebarkan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data primer yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden dimana variabel yang diukur dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Persepsi terhadap prosedur-prosedur pada tahapan perancangan CMDB (X).
2.      Persepsi terhadap peningkatan kinerja layanan TI (Y)
Untuk menilai kuesioner kedua, normalitas data uji diperoleh untuk distribusi normal dengan menggunakan metode chi-square. Ini dilakukan dengan pengujian hipotesis yang diasosiasikan dengan pernyataan "ada hubungan positif dan signifikan antara CMDB desain prosedur dengan kinerja TI peningkatan pelayanan melalui metode Product Moment Pearson. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus korelasi, hasil yang diperoleh adalah 00:37. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara prosedur desain CMDB dengan peningkatan kinerja dalam teknologi informasi layanan. Dimana dalam korelasi signifikan dihasilkan t sebesar 2.24. Dengan nilai t tabel pada 2,04.
Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan dimana dari perancangan ini merupakan hasil kompilasi dari dua roadmap perancangan CMDB yang ada. Terdapat persepsi mengenai hubungan yang positif dan signifikan antara prosedur perancangan CMDB dengan peningkatan kinerja layanan TI, sehingga dapat menjadi langkah awal menuju implementasi CMDB di PT. Northstar Pacific Capital.
Pada Jurnal pertama dipaparkan mengenai ITIL meliputi latar belakang, komponen dasar yang digunakan oleh ITIL, serta morfologi pada ITIL V3. Sedangkan pada jurnal kedua memparkan mengenai implementasi ITIL. Perancangan Configuration Management Database Perusahaan Untuk Meningkatan Kinerja Layanan Teknologi Informasi yang diterapkan oleh PT. Northstar Pacific Capital.
Referensi :

Jumat, 22 April 2016

Kelompok 4 :Service operation, Continual Service Improvement, Business Relationship Management, dan Financial Management for Information Technology Services



A.    Service operation
Service operation merupakan tahap implementasi dari layanan TI yang telah dikembangkan, membuat perangkat dokumen yang mengatur regulasi layanan seperti Standard Operating Procedure (SOP) dan manual/petunjuk pemakaian layanan TI kepada pengguna layanan. Proses-proses yang dilakukan pada iterasi service operation sebagai berikut:
1.      Manajemen Event (Event Management)
Tujuan dari proses ini adalah memastikan Configurasi item (CI) yang ada terpantau dan menyaring kategori event untuk memutuskan tindakan yang tepat.
2.      Manajemen Insiden (Incident Management)
Tujuan dari proses ini adalah mengelola semua siklus insiden guna mengembalikan layanan TI kepada pelanggan secepat mungkin jika insiden terjadi.
3.      Pemenuhan Permintaan (Request Fulfilment)
Tujuan dari proses ini adalah memenuhi permintaan pelanggan pada layanan TI, seperti perubahan password atau permintaan informasi.
4.      Manajemen Akses (Access Management)
Tujuan dari proses ini adalah memberikan hak kepada pengguna yang berwenang dan mencegah akses dari pengguna yang tidak terotorisasi. Manajemen akses erat kaitannya dengan keamanan informasi.
5.      Manajemen Masalah (Problem Management)
Tujuan dari proses ini adalah mengelola semua siklus masalah yang terjadi pada layanan TI. Manajemen masalah bertugas untuk mencegah terjadinya insiden dan meminimalkan dampak dari insiden.
6.      Pengendalian Operasi TI (TI Operations Control)
Tujuan dari proses ini adalah memantau dan mengontrol layanan TI beserta infrastrukturnya. Proses ini bertanggung jawab pada pengendalian tugas-tugas rutin dari pengelolaan layanan TI.
7.      Manajemen Fasilitas (Facilities Management)
Tujuan dari proses ini adalah mengelola lingkungan fisik dari infrasturkur TI yang berjalan.
8.      Manajemen Aplikasi (Application Management)
Tujuan dari proses ini adalah mengelola siklus hidup aplikasi layanan TI yang berjalan.
9.      Manajemen Teknis (Technical Management)
Tujuan dari proses ini adalah menyediakan ahli teknis untuk mendukung pengelolaan infrastruktur TI.
B.     Continual Service Improvement
Continual service improvement (CSI) merupakan bagian akhir dari iterasi siklus hidup layanan ITIL, pada iterasi ini dilakukan evaluasi terhadap layanan TI yang telah berjalan. CSI bertujuan untuk mempersiapkan rencana peningkatan terhadap layanan TI, agar mampu berjalan berkelanjutan. Proses-proses yang dilakukan pada iterasi continual service improvement sebagai berikut:
1.      Review Layanan (Service Review)
Tujuan dari proses ini adalah meninjau layanan TI dan infrastruktur secara teratur. Review berguna untuk meningkatkan kualitas layanan dan mengidentifikasi cara ekonomis dalam menyediakan layanan TI.
2.      Evaluasi Proses (Process Evaluation)
Tujuan dari proses ini adalah mengevaluasi proses secara teratur, melakukan identifikasi titik-titik improvement untuk meningkatkan kualitas layanan.
3.      Definisi Upaya CSI (Definition of CSI Initiatives)
Tujuan dari proses ini adalah menentukan upaya spesifik yang berguna untuk meningkatkan proses dan layanan TI baik secara internal ataupun external.
4.      Memantau Upaya CSI (Monitoring of CSI initiatives)
Tujuan dari proses ini adalah memeriksa / memastikan upaya yang dilakukan berjalan sesuai rencana, dan dilakukan tindakan korektif jika dianggap perlu.
C.     Business Relationship Management
Manajemen hubungan bisnis (BRM) adalah pendekatan formal untuk pemahaman, mendefinisikan, dan mendukung kegiatan antar-usaha yang terkait dengan jaringan bisnis. Manajemen hubungan bisnis terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan perilaku (atau kompetensi) yang membina hubungan yang produktif antara organisasi jasa (misalnya Sumber Daya Manusia , teknologi informasi , departemen keuangan, atau penyedia eksternal) dan mitra bisnis mereka.
BRM berbeda dari manajemen hubungan perusahaan dan manajemen hubungan pelanggan meskipun hal itu berkaitan. Ini adalah ruang lingkup yang lebih besar daripada penghubung yang sejalan kepentingan bisnis dengan TI Penyerahan .
BRM diimplementasikan melalui peran organisasi, disiplin, dan model
1.      Sebagai peran organisasi
Peran organisasi adalah hubungan antara penyedia layanan dan bisnis. Peran bertindak sebagai penghubung, orkestra, dan navigator antara penyedia layanan dan satu atau unit bisnis yang lebih.
2.      Sebagai suatu disiplin
Disiplin BRM adalah penelitian berbasis dan telah diverifikasi dan ditingkatkan untuk lebih dari satu dekade. Hal ini digunakan dalam organisasi di seluruh dunia dan berlaku efektif untuk layanan bersama , penyedia layanan eksternal dan lain-lain. Tujuan dari disiplin adalah untuk memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan, mengevaluasi, dan menggunakan hubungan jaringan bernilai tinggi.
3.      Sebagai model
Salah satu tujuan dari BRM adalah untuk menyediakan model lengkap hubungan bisnis dan nilai mereka dari waktu ke waktu, untuk membuat berbagai aspek mereka baik eksplisit dan terukur. Sebuah model BRM dewasa pada akhirnya akan mendukung bisnis strategis penelitian dan pengembangan usaha serta alat-alat dan teknik yang menerapkan prinsip-prinsip BRM.
D.    Financial Management for Information Technology Services
ITFM adalah disiplin berdasarkan prinsip keuangan dan akuntansi standar, tapi alamat prinsip-prinsip tertentu yang berlaku untuk layanan TI, seperti manajemen aset tetap, manajemen modal, audit, dan penyusutan.
Tujuan dari Manajemen Keuangan Jasa IT (ITFM) adalah untuk mengoptimalkan biaya IT Services saat mengambil menjadi kualitas akun dan faktor risiko. Saldo analisis biaya terhadap kualitas dan risiko untuk membuat cerdas, strategi optimalisasi biaya berdasarkan metrik-. Balancing diperlukan karena biaya pemotongan mungkin tidak menjadi strategi terbaik untuk memberikan output konsumen yang optimal.
Manajemen keuangan untuk layanan TI mengandung 3 sub-proses:
1.      Penganggaran
Penganggaran memungkinkan organisasi untuk merencanakan pengeluaran TI masa depan, mengurangi risiko over-pengeluaran dan memastikan pendapatan yang tersedia untuk menutupi pengeluaran diprediksi. Selain itu, anggaran memungkinkan sebuah organisasi untuk membandingkan biaya aktual dengan biaya diperkirakan sebelumnya dalam rangka meningkatkan keandalan prediksi penganggaran.
2.      Akuntansi IT
Akuntansi IT berkaitan dengan jumlah uang yang dihabiskan dalam memberikan layanan TI. Hal ini memungkinkan organisasi untuk melakukan berbagai analisis keuangan untuk mengukur efisiensi penyediaan layanan TI dan menentukan daerah mana penghematan biaya dapat dibuat. Hal ini juga akan memberikan transparansi keuangan untuk membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan.
Beberapa elemen biaya dapat digunakan untuk mengontrol akuntansi Anda:
·         Biaya modal: Setiap jenis pembelian yang akan memiliki nilai sisa, seperti perangkat keras dan pembangunan infrastruktur.
·         Biaya operasional: Hari-hari biaya berulang, seperti biaya sewa, faktur listrik bulanan dan gaji.
·         Biaya langsung: Setiap biaya yang secara langsung dikaitkan dengan salah satu layanan tunggal atau tertentu atau pelanggan.
·         Biaya tidak langsung: Satu penyediaan layanan tertentu yang perlu didistribusikan di antara beberapa pelanggan di breakdown adil.
·         Biaya tetap: Apa biaya didirikan untuk jangka waktu yang lama seperti kontrak pemeliharaan tahunan atau kontrak sewa. biaya ini tidak bervariasi dalam jangka pendek.
·         Biaya variabel: Setiap biaya yang bervariasi dalam jangka pendek berdasarkan tingkat layanan yang diberikan, sumber daya yang dikonsumsi, atau faktor lainnya. Misalnya, biaya energi adalah variabel berdasarkan jumlah yang dikonsumsi.
3.      Pengisian
Pengisian menyediakan kemampuan untuk menentukan biaya dari layanan TI secara proporsional dan adil untuk para pengguna layanan tersebut. Ini dapat digunakan sebagai langkah pertama menuju organisasi TI beroperasi sebagai bisnis otonom. Hal ini juga dapat digunakan untuk mendorong pengguna untuk bergerak dalam arah strategis penting - misalnya dengan subsidi sistem yang lebih baru dan memberlakukan biaya tambahan untuk penggunaan sistem warisan. Transparansi pengisian akan mendorong pengguna untuk menghindari kegiatan yang mahal di mana alternatif sedikit lebih nyaman tapi jauh lebih murah yang tersedia. Misalnya, pengguna mungkin isi dump pada layar daripada mencetaknya off.
Pengisian ini bisa dibilang yang paling kompleks dari tiga sub-proses, yang membutuhkan investasi besar sumber daya dan tingkat tinggi hati untuk menghindari anomali, di mana sebuah departemen individu dapat mengambil manfaat dari perilaku yang merugikan perusahaan secara keseluruhan. Pengisian kebijakan perlu secara bersamaan sederhana, adil dan realistis.
Referensi :

Jumat, 08 April 2016

Information Technology Service Management


IT Service Management adalah salah satu cara untuk mengelola layanan teknologi informasi. Layanan teknologi perlu dikelola dengan baik untuk mendapatkan output dalam bentuk informasi yang dibutuhkan oleh manajemen. Untuk meningkatkan layanan teknologi informasi untuk lebih baik, diperlukan audit meliputi audit layanan teknologi informasi. Audit layanan teknologi informasi dilakukan untuk menentukan kelayakan teknologi informasi denngan terkait, dalam hal ini penulis berfokus pada isu-isu keamanan teknologi informasi.

Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan manajemen layanan teknologi informasi yaitu ; ITIL dan sigma six. Sekarang ini, banyak organisasi yang telah menerapkan IT, bahkan mereka dapat bangkrut bila tidak menggunkan IT. Dan saat ini, jika IT mengalami masalah dan idak tersedian, bisnis pun dapat berimbas juga.

.           Salah satu kerangka kerja untuk melakukan tata kelola TI adalah Information Technology Infrastructure Library (ITIL), ITIL dirancang khusus untuk pengelolaan pelayanan TI, selain itu ITIL juga dapat menjadi pedoman bagi organisasi untuk merancang dan menjalankan sistem tata kelola TI. ITIL merupakan kerangka paling populer dan berpengaruh untuk menerapkan IT Service Management. Pelaksanan ITIL tidak sulit jika memahami betul yang harus dilakukan, diprioritaskan, dan disesuaikan dengan pedoman ITIL. Pada pelaksanaannya
organisasi seringkali tidak mematuhi pedoman ITIL akibatnya implementasi ITIL memakan waktu yang panjang, mahal, dan berisiko.

ITSM (Information Technology Service Management) merupakan metode pengelolaan sistem
teknologi informasi yang terpusat pada pelanggan, layanan TI, perjanjinan tentang layanan TI, dan penanganan fungsi TI . ITSM atau manajemen layanan teknologi informasi menitikberatkan pada layanan terhadap pelanggan, pelanggan diberi fasilitas kenyamanan dan kemudahan dalam transaksi bisnis melalui teknologi informasi. IT Service Management didefinisikan sebagai pengelolaan dari semua proses yang bekerja sama untuk memastikan bahwa kualitas layanan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan pelanggan (Menken, 2009).

1.       Information Technology Infrastructure Library (ITIL)
ITIL adalah kerangka kerja umum yang menggambarkan best practice dalam manajemen layanan teknologi informasi . ITIL menyediakan kerangka kerja bagi tata kelola teknologi informasi, “membungkus layanan”, dan berfokus pada pengukuran terus!menerus dan perbaikan kualitas layanan teknologi informasi yang diberikan, baik dari sisi bisnis dan perspektif pelanggan . Fokus ini merupakan faktor utama dalam keberhasilan ITIL dan telah memberikan kontribusi untuk penggunaan produktif dan memberikan manfaat yang diperoleh organisasi dengan pengembangan teknik dan proses sepanjang organisasi ada . Gambar 1 menunjukkan siklus hidup ITIL yang terdiri dari 5 tahap yang meliputi Service Strategy, Service Design, Service Transition, Service Operation, dan Continual Service Improvement.

a.        Service Strategy, pada proses ini organisasi menganalisa kebutuhan bisnis.
b.      Service Design organisasi melakukan perubahan terhadap pola bisnis dengan mendesain infrastruktur Teknologi Informasi, kualitas layanan Teknologi Informasi, melakukan kebijakan terhadap keamanan Teknologi Informasi, dan melakukan pengukuran terhadap layanan.
c.       Service Transition berfokus untuk memberikan layanan terbaik pada semua layanan.
d.      Service Operation adalah memberikan nilai kepada bisnis dan memastikan bahwa nilai ini disampaikan.
e.       Continual Service Improvement melakukan evaluasi terus menerus untuk meningkatkan kualitas layanan pada siklus di bawahnya. Pada siklus hidup ITIL ini, hanya dilakukan pada tahapan Service Design yang fokus penelitian pada proses information security management. Service design adalah sebuah tahap dalam siklus layanan dan elemen yang penting di dalam proses perubahan bisnis (Cartlidge, 2007).
2.      Six Sigma
Six Sigma adalah proses pengembangan metode yang berfokus pada organization on customer requirements, process alignment, analytical rigor, and timely execution. Ini adalah metode yang teratur dan terlatih yang menghasilan alat yang berguna untuk mencapai konsistensi. Dengan meningkatkan performa dan menurunkan variasi, Sis Sigma mengijinkan pengorganisasian untuk membuat pelanggan focus, keputusan data-driven yang pada akhirnya memberitahu efek pengurangan produk, meningkatkan laba dan moral pagawai, dan meningkatkan kualitas produk.  

Six Sigma merupakan proses yang membawa keuntungan tambahan bagi ITIL dan membantu pengorganisasian unuk mengadaptasi pengalaman yang terbaik untuk memberikan pelayanan dengan kualitas proses yang memastikan akan berhasil. Dalam orientasi bisnis yang  menjamin bahwa pengembangan aktivitas layanan dan focus kesepakatan yang memberikan dampak kepada pelanggan. Seperti, dampak bahwa ITIL dalam bisnis semakin membaik.  Pandangan awal, ITIL dan Six Sigma muncul menjadi pandangan yang baik. Bagaimanapun keduanya saling melengkaspi dan dapat disatukan untuk pengembangan bisnis yang berkelanjutan. Proses pengoptimalan, pengembangan berkelanjutan, mengukur kualitas dari layanan dan proses pengambangan, dan memaksimalkan timbale balik dari pengorganisasian IT dan mencari layanan yang terbaik adalah poin terpenting utnuk menggabungkan Six Ssma dan ITIL.  

Referensi :

Rabu, 25 November 2015

JavaScript


JavaScript adalah bahasa pemrograman berbasis java yang merupakan interface pembantu dalam pemrograman web. JavaScript adalah bahasa pemograman web yang bersifat Client Side Programming Language. Client Side Programming Language adalah tipe bahasa pemograman yang pemrosesannya dilakukan oleh client. Aplikasi client yang dimaksud merujuk kepada web browser seperti Google Chrome dan Mozilla Firefox. Jenis bahasa pemograman Client Side berbeda dengan bahasa pemograman Server Side seperti PHP, dimana untuk server side seluruh kode program dijalankan di sisi server.
Untuk menjalankan JavaScript, kita hanya membutuhkan aplikasi text editor, dan web browser. JavaScript memiliki fitur: high-level programming language, client-side, loosely tiped, dan berorientasi objek. JavaScript populer di internet dan dapat bekerja di sebagian besar penjelajah web populer seperti Internet Explorer (IE), Mozilla Firefox, Netscape dan Opera. Kode JavaScript dapat disisipkan dalam halaman web menggunakan tag SCRIPT.
A.    Sejarah
JavaScript pertama kali dikembangkan oleh Brendan Eich dari Netscape dibawah nama Mocha, yang nantinya namanya diganti menjadi LiveScript, dan akhirnya menjadi JavaScript. Navigator sebelumnya telah mendukung Java untuk lebih bisa dimanfaatkan para programmer yang non-Java. Maka dikembangkanlah bahasa pemrograman bernama LiveScript untuk mengakomodasi hal tersebut. Bahasa pemrograman inilah yang akhirnya berkembang dan diberi nama JavaScript, walaupun tidak ada hubungan bahasa antara Java dengan JavaScript.
JavaScript bisa digunakan untuk banyak tujuan, misalnya untuk membuat efek rollover baik di gambar maupun teks, dan yang penting juga adalah untuk membuat AJAX. JavaScript adalah bahasa yang digunakan untuk AJAX.
B.     Fungsi JavaScript Dalam Pemograman Web
JavaScript pada awal perkembangannya berfungsi untuk membuat interaksi antara user dengan situs web menjadi lebih cepat tanpa harus menunggu pemrosesan di web server. Sebelum JavaScript, setiap interaksi dari user harus diproses oleh web server. Bayangkan ketika kita mengisi form registrasi untuk pendaftaran sebuah situs web, lalu men-klik tombol submit, menunggu sekitar 20 detik untuk website memproses isian form tersebut, dan mendapati halaman yang menyatakan bahwa terdapat kolom form yang masih belum diisi. Untuk keperluan seperti inilah JavaScript dikembangkan. Pemrosesan untuk mengecek apakah seluruh form telah terisi atau tidak, bisa dipindahkan dari web server ke dalam web browser.
Dalam perkembangan selanjutnya, JavaScript tidak hanya berguna untuk validasi form, namun untuk berbagai keperluan yang lebih modern. Berbagai animasi untuk mempercantik halaman web, fitur chatting, efek-efek modern, games, semuanya bisa dibuat menggunakan JavaScript. Akan tetapi karena sifatnya yang dijalankan di sisi client yakni di dalam web browser yang digunakan oleh pengunjung situs, user sepenuhnya dapat mengontrol eksekusi JavaScript. Hampir semua web browser menyediakan fasilitas untuk mematikan JavaScript, atau bahkan mengubah kode JavaScript yang ada. Sehingga kita tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada JavaScript.
C.     Kelebihan JavaScript
·         Mudah Dipelajari : JavaScript merupakan bahasa semi pemrograman yang merupakan gabungan antara bahasa pemrograman Java dengan bahasa kode HTML sehingga disebut bahasa hybrid.
·         Terbuka : JavaScript tidak terkait oleh  hardware maupun software tertentu bahkan sistem operasi seperti windows maupun unix. Karena bersifat terbuka, jadi JavaScript bisa dibuat maupun di baca di semua jenis komputer.
·         Ukuran File Kecil : Script dari JavaScript memiliki ukuran yang kecil sehinggan web yang memiliki JavaScript ditampilkan di browser maka akses tampilannya akan lebih cepat.
·         Cepat : Karena diletakkan di HTML,  dan langsung dicoba di browser.

D.    Kekurangan JavaScript
·         Masalah Keamanan : Potongan JavaScript, setelah ditambahkan ke halaman web mengeksekusi pada server klien dengan segera dan karena itu juga dapat digunakan untuk mengeksploitasi sistem pengguna. Sementara pembatasan tertentu yang ditetapkan oleh standar web modern pada browser, kode berbahaya masih bisa dijalankan sesuai dengan batasan yang ditetapkan.
·         Kemampuan Terbatas : Meskipun JavaScript mampu membuat bentuk web menjadi interaktif dan dinamis, namun JavaScript tidak mampu membuat program aplikasi sendiri seperti Java.
·         Keterbatasan Objek : JavaScript tidak mampu membuat kelas-kelas yang bisa menampung objek-objek tambahan seperti Java, karena JavaScript sudah memiliki objek yang builtin pada struktur bahasanya.

Referensi :

My Role Model

A person can be said to be a role model, if the person’s actions, behaviors, characters are capable of inspiring someone. Everyone has ...